Untuk UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah), stok yang rapi membuat arus kas lebih sehat. Ada dua sisi yang harus selaras: 1) alur fisik (bagaimana barang diambil di rak/gudang) dan 2) metode penentuan biaya di pembukuan (bagaimana HPP/COGS dihitung; HPP = harga pokok penjualan, COGS = cost of goods sold). Berikut ringkasannya dengan contoh angka dan langkah implementasi.
• LIFO – Last In, First Out (Masuk belakangan, keluar duluan). Kadang terjadi secara fisik (mis. tumpuk palet), tetapi untuk pelaporan keuangan di Indonesia, metode biaya LIFO tidak diperkenankan. Gunakan FIFO atau rata-rata secara konsisten.
• Rata-rata bergerak (moving average). Biaya per unit = total biaya ÷ total unit; praktis saat harga beli sering berubah.
• FEFO – First Expired, First Out (Kedaluwarsa duluan, keluar duluan). Varian praktis dari FIFO untuk barang dengan ED (expiry date/tanggal kedaluwarsa): ambil yang ED-nya paling dekat terlebih dahulu.
• 100 unit @ Rp10.000 = Rp1.000.000
• 100 unit @ Rp12.000 = Rp1.200.000
Total 200 unit; lalu jual 150 unit.
FIFO (First In, First Out):
COGS = 100×10.000 (batch pertama) + 50×12.000 (batch kedua) = Rp1.600.000
Persediaan akhir = sisa 50×12.000 = Rp600.000
Rata-rata bergerak (moving average):
Biaya rata-rata = (1.000.000 + 1.200.000) ÷ 200 = Rp11.000
COGS = 150×11.000 = Rp1.650.000
Persediaan akhir = 50×11.000 = Rp550.000
LIFO (Last In, First Out — ilustrasi fisik saja):
Ambil batch terakhir lebih dulu.
• 100×12.000 = Rp1.200.000 (habiskan batch kedua)
• Tambah 50×10.000 = Rp500.000 (ambil sisa dari batch pertama)
COGS LIFO = 1.200.000 + 500.000 = Rp1.700.000
Persediaan akhir (sisa) = 50×10.000 = Rp500.000
Cek total biaya: COGS + persediaan akhir = 1.700.000 + 500.000 = 2.200.000 (sesuai total biaya masuk).
Inti: pilihan metode memengaruhi COGS dan nilai persediaan akhir, sehingga berdampak ke laba kotor. Di lapangan, tetap utamakan FIFO/FEFO untuk jaga kualitas dan mengurangi waste.
2. Penempatan rak. Susun barang lama di depan, baru di belakang (prinsip FIFO); gunakan penanda warna/kanban agar urutan ambil jelas.
3. Picking & pengecualian. Ambil dari batch tertua (atau paling dekat ED untuk FEFO). Pisahkan barang retur/kemasan rusak untuk dicek sebelum kembali ke stok jual.
4. Cycle count (hitung berkala sebagian stok). Fokus ke 10 SKU terlaris setiap hari. SKU – Stock Keeping Unit adalah kode unik per produk/varian. Jika selisih > 1%, segera investigasi (pencatatan, salah taruh, shrinkage).
5. ROP – Reorder Point (titik pesan ulang). Rumus praktis: ROP = penjualan harian × lead time (hari) + safety stock. Contoh: SKU A terjual 8 unit/hari, lead time 2 hari, safety stock 4 → ROP = 8×2 + 4 = 20. Saat stok menyentuh 20, lakukan pemesanan.
• Shrinkage ≤1% (hilang/rusak): (stok hilang atau rusak ÷ stok keluar) × 100%.
• Fill rate ≥95% (pesanan terpenuhi penuh tanpa back-order).
• Days of inventory = persediaan saat ini ÷ penjualan harian (berapa hari stok akan habis).
• Expiry loss = 0 untuk produk dengan ED.
Manajemen stok yang baik menyatukan alur fisik (FIFO/FEFO di rak) dan metode pembukuan (FIFO atau rata-rata) agar barang dan angka bergerak seirama. Mulailah dari pelabelan batch & ED, disiplin cycle count pada SKU terlaris, serta ROP sederhana. Dalam 2–4 minggu, biasanya shrinkage turun, fill rate naik, dan arus kas lebih lega.
